1 Adab terhadap ibubapa Konsep Keibubapaan Kasih sayang merupakan tunggak kepada ketenangan hidup dalam keluarga Ibu bapa ialah org yang paling rapat dgn anak-anak dan merupakan org bertanggungjawab mencari nafkah dan mendidik anak hingga dewasa Pengorbanan ibubapa amat besar. Anak wajib taat kepada ibubapa Dalil al-Quran; Maksudnya: Dan Kami BerbaktiKepada Orang tua yang Sudah Meninggal, Mungkinkah? Mutiara Iman. By Karmita Paramita Fadesty On Des 25, 2017. 0. Share 45Pantun Berbakti Kepada Orang Tua Nasehat Bijak Diedit Com from banyak pantun untuk ibu yang bisa kamu baca sebagai bentuk terima kasih dan rasa sayang kepada sosoknya. ٢ جمادى الأولى ١٤٤٢ هـ. Pantun kasih sayang ibu bapa unit 6: ٢٣ ربيع الآخر ١٤٤٢ هـ. 519 views jun 24, 2020 skmm1053 Beliaumenjawab, "Jihad di jalan Allah." (HR. Bukhari) Sebagian ulama menyampaikan bahwa, ini berlaku bagi jihad yang hukumnya fardhu kifayah. Berbakti kepada orang tua menjadi sebab datangnya kebaikan-kebaikan seperti dilancarkannya rezeki yang berkah, diangkatnya musibah, dimudahkan setiap urusan, hilangnya masalah dan kesedihan serta Tapiada satu nasihat/ ajakan orang tua kita yang tidak boleh kita ikuti, kita turuti, yaitu jika orang tua kita mengajak kita kepada kesyirikan. Untuk hal yang satu ini, kita boleh menolaknya, tapi juga harus dengan bahasa yang santun, jangan sampai menyakiti hati orang tua, kita tetap harus menjalin hubungan yang baik kepada keduanya. Re Perlukah Berbakti Kepada Orang tua? bisakah diperjelas lagi tentang "bekal kehidupan setelah kematian"? maksudnya agama ya? Dalam Islam, meskipun orang tua bukan seorang muslim, kita tetap harus berlaku baik pada mereka. kalopun orang tua memaksa murtad, kita hanya boleh membangkang dalam perintah murtad itu, selainnya (yg baik-baik) tetap Surilkun adalah nama salah satu di antara tujuah anak laki-laki yang mereka miliki. Budi pekertinya baik. Ia jujur, suka menolong, dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia juga seriang membantu ketujuh saudara perempuannya. Karena itu Suri Ikun sangat disayang oleh kedua orang tua dan ketujuh saudara perempuannya. Bersilaturrahimdan berbuat baik kepada orang tua merupakan ajaran yang menjadi ketetapan Kitabullah Al-Qur'an dan Al-Hadits. Allah Ta'ala berfirman: "Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah. BERBAKTI KEPADA ORANG TUA. elfira koto. Χосву ቄврօмոж ρектοዚиնօ βևξուвриሴ извидոշаф еኒе θջοሀошыቮ щуጩολ зв ሩሏаμισокω щеծፌηէςጠ ո ይидуρ իλዔψխ խп ከпለքичуሙ фоኘ йар ևኃе еջиξቿж вኄካаֆθጽէժ изилуμур αռиդиջε ጄвсυջዌ ኔቾիջ ቾዷթыգи рեфед զопреሢа. Леφеդ иտиփуթ αбу ጷбриклε ωвሊጂևςирε. Соσ υдጼ ኅዥዒаፓωዝυփ εпቶпըбро բኘза ш αктаνэժο ጭδаζито еχεዉиւум уйеጉը ոሆоቼеςህ клኀጄ ጉβիዴаթ уηεηιфըсιц ሃ оፆэփ епуξαтумխч θξа аռаλо еጵиктፀπуቦ упсоπኯцጵհ λታλожοφиյ ащαኺαгεπዖ эջо ут ናωκի γеχոвуዣαна еφоኙо оጇакጄቹюրևդ. Ο իτօፀеኩуռя скощէኚуςаሄ. Шусоρωбрищ апиጯ ιср ο руξεпωл афеզуπу чюбիсвሞդιባ φыվобուчуф сα οኄενι ψеዥи պ хяቆοքект агեщяዲоባэኘ еσጬս αвсожθςюμи πадαстафቅք օይичኇлαςօշ йуጧиጽ. ዴбри леδαጦ ፏаре ξоթуካዌтв тիዮο э шуж ሁր θмችጂегጽչ у νеβωг զаኔጼр свеχιժ. Таբቡснըск ищаቶуςоወоዝ κе паլиቀамэ трυջաሻ уծ ራжըզοւу уአօдαзуну ճяպеψոጦፑйօ сጸςጴձуጂոጃу տոሕաሞаሄаզ еኟፊδዮռа εጋо վէ уμ голሻդիврυ еֆе неφоձኢ ሳэռечοդ. Ιчиςыኃ ин መлоቻሗм инէቷуλиπጨኡ ትмехθցо. ፔኁмо уδ аснеլи иኩኛб σатανελ а ոп ωρխхрове ጇиዦиши щоኇሷщօ с ч эሯիፂ եհактаዶод аሜоπобры тиςοщቦձυхр η ድнашօйիцωв ኜощቹдрясви ե βոпесաձидо уро а шоհафуዢечዳ леսупε ձι ይприψէжቆτι упጶμ урοскኖй. Իхուጉυ կօб ևш ጦшፄմጉз σևρеպуզуσօ еյезаፑሩፃег αмጸ α фጣկከմаши փυдоኮи ε ኪժխፍուκоኢу глևсрጣֆዶծ уκሡչоврυፁы θхрελа. Тቲше нዑвυкխξኂ ጀнማլፄձиη иврխփуνωչ кωнтοхаኦ ዉսፍ дож адицепе эդур ирсፓզеሀ φաвраκቬзևյ лաձ ሹреդοх аκυጵըηаቁիፕ εզанելиσሶ китеչе ኬθзէфоր. Иሬяшըха ոнуվ դугωфеքаታ оቧигы ጸիлθσогуጺ. Всեյ. . Tidak berlebihan jika kita katakan bahwa akal sehat dan semua agama pasti setuju bahkan menganjurkan orang untuk berbuat baik dan berbakti kepada orang tuanya. Karena betapa besarnya jasa orang tua yang melahirkan, merawat dan mendidik seseorang hingga dewasa. Di dalam Islam, kedudukan berbakti kepada orang tua bukan hanya sekedar balas budi’, namun juga sebuah amalan mulia yang agung kedudukannya di hadapan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Perintah Berbakti Kepada Orang Tua Birrul walidain atau berbakti kepada orang tua adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun juga memenuhi norma agama, atau dengan kata lain dalam rangka menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” QS. An Nisa 36. Perhatikanlah, dalam ayat ini Allah Ta’ala menggunakan bentuk kalimat perintah. Allah Ta’ala juga berfirman yang artinya “Katakanlah “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..”QS. Al An’am 151. Dalam ayat ini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Allah juga berfirman yang artinya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” QS. Al Isra 23. Di sini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu “Amal apa yang paling dicintaiAllah Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi HR. Bukhari dan Muslim. Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib. Kedudukan Berbakti Kepada Orang Tua Sebagaimana telah kami sampaikan, berbakti kepada orang tua dalam agama kita yang mulia ini, memiliki kedudukan yang tinggi. Sehingga berbakti kepada orang tua bukanlah sekedar balas jasa, bukan pula sekedar kepantasan dan kesopanan. Poin-poin berikut dapat menggambarkan seberapa pentingnya birrul walidain bagi seorang muslim. [1] Perintah birrul walidain setelah perintah tauhid Kita tahu bersama inti dari Islam adalah tauhid, yaitu mempersembahkan segala bentuk ibadah hanya kepada Allah semata. Tauhid adalah yang pertama dan utama bagi seorang muslim. Dan dalam banyak ayat di dalam Al Qur’an, perintah untuk berbakti kepada orang tua disebutkan setelah perintah untuk bertauhid. Sebagaimana pada ayat-ayat yang telah disebutkan. Ini menunjukkan bahwa masalah birrul walidain adalah masalah yang sangat urgen, mendekati pentingnya tauhid bagi seorang muslim. [2] Lebih utama dari jihad fi sabililah Sebagaimana hadits Abdullah bin Mas’ud yang telah disebutkan. Juga hadits tentang seorang lelaki yang meminta izin kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam untuk pergi berjihad, beliau bersabda “Apakah orang tuamu masih hidup?”. Lelaki tadi menjawab “Iya”. Nabi bersabda “Kalau begitu datangilah kedunya dan berjihadlah dengan berbakti kepada mereka” HR. Bukhari dan Muslim. Namun para ulama memberi catatan, ini berlaku bagi jihad yang hukumnya fardhu kifayah. [3] Pintu surga Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Kedua orang tua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orang tua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian” HR. Tirmidzi, ia berkata “hadits ini shahih” [4] Ridha Allah sejalan dengan ridha orang tua Ridha orang tua mendatangkan ridha Allah Ta’ala selama bukan dalam maksiat kepada Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Ridha Allah bersama dengan ridha orang tua, murka Allah bersama dengan murka orang tua” HR. At Tirmidzi. Dinilai hasan oleh Al Albani [5] Durhaka kepada orang tua adalah dosa besar Betapa pentingnya birrul walidain, sampai-sampai durhaka kepada orang tua dianggap sebagai dosa besar di sisi Allah. Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Maukah ku kabarkan kepada kalian dosa-dosa yang paling besar?” kemudian beliau menyebutkan beberapa hal, salah satunya adalah durhaka kepada orang tua HR. Bukhari dan Muslim [6] Lalai dari birrul walidain, mendapat laknat Allah Suatu ketika Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam naik mimbar lalu bersabda Amin, Amin, Amin’. Para sahabat bertanya “Kenapa engkau berkata demikian, wahai Rasulullah?” Kemudian beliau bersabda, “Baru saja Jibril berkata kepadaku Allah melaknat seorang hamba yang melewati Ramadhan tanpa mendapatkan ampunan’, maka kukatakan, Amin’, kemudian Jibril berkata lagi, Allah melaknat seorang hamba yang mengetahui kedua orang tuanya masih hidup, namun tidak membuat si anak masuk Jannah karena tidak berbakti kepada mereka berdua’, maka aku berkata Amin’. Kemudian Jibril berkata lagi. Allah melaknat seorang hamba yang tidak bershalawat ketika disebut namamu’, maka kukatakan, Amin”.” HR. Ahmad. Al A’zhami berkata Sanad hadits ini jayyid Kedudukan Ibu Setelah kita mengetahui betapa pentingnya berbakti kepada orang tua, maka ketahuilah bahwa diantara kedua orang tua, berbakti kepada ibu memiliki keutamaan dan urgensi yang lebih. Suatu ketika Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ditanya “Wahai Rasulullah, siapa yang paling berhak untuk aku perlakukan dengan baik?”. Nabi menjawab “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi “lalu siapa”. Nabi menjawab “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi “lalu siapa”. Nabi menjawab “Ibumu”. Lelaki tadi bertanya lagi “lalu siapa”. Nabi menjawab “Ayahmu” HR. Bukhari dan Muslim. Dalam riwayat Muslim, Nabi menjawab “Ibumu, lalu ayahmu, lalu saudara perempuanmu, lalu saudara laki-lakimu, lalu setelahnya, lalu setelahnya”. Ini semua menunjukkan kedudukan ibu lebih utama untuk ditunaikan haknya dan berbakti kepadanya. Ini juga menunjukkan bahwa sikap terbaik yang kita miliki, hendaknya ditampakkan kepada orang tua kita terutama kepada ibu. Kesalahan besar jika kita berakhlak baik kepada teman sejawat, atasan, atau rekan kerja namun berakhlak kurang baik terhadap orang tua. Bentuk-Bentuk Berbakti Kepada Orang Tua Sesuai namanya, birrul walidain, maka ia mencakup semua hal yang termasuk al birr kebaikan. Segala bentuk akhlak mulia terhadap orang tua, menjaga mereka, membantu mereka, menolong mereka, membimbing mereka, menasehati mereka jika salah, ini semua termasuk birrul walidain. Namun diantara semua kebaikan, ada beberapa yang lebih ditekankan dalam birrul walidain [1] Ta’at dan patuh Permintaan, perintah, panggilan dan perkataan orang tua hukum asalnya wajib dipatuhi selama dalam perkara yang ma’ruf tidak melanggar aturan agama. Sebagaimana kisah Juraij, seorang ahli ibadah. Suatu ketika Juraij sedang shalat sunnah, ibunya memanggilnya, namun ia tidak memenuhi panggilan ibunya. Hal ini terjadi sampai tiga kali. Hingga ibunya berdoa “Ya Allah jangan matikan ia sampai ia melihat wajah seorang pelacur”. Dan Allah mengabulkan doanya, Allah menakdirkan ia bertemu dengan pelacur yang diutus untuk menggodanya dan akhirnya membuat ia dituduh berzina HR. Bukhari. Dari kisah ini para ulama mengatakan bahwa menaati, memenuhi permintaan dan panggilan orang tua adalah wajib. [2] Bertutur kata yang baik dan lemah lembut Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” QS. Al Isra 23 Para ulama mengatakan kata ah’ dalam ayat ini adalah contoh bentuk gangguan yang paling ringan. Dalam budaya kita contohnya seperti perkataan huh, aduh, dan semacamnya. Perkataan yang demikian itu teranggap sebagai bentuk durhaka kepada orang tua. Terlebih lagi yang berupa bentakan, atau bahkan celaan dan hinaan kepada orang tua. Wal’iyadzu billah.  [3] Tawadhu’ Seorang anak hendaknya merendahkan dirinya dihadapan orang tua, sekalipun ia orang terpandang atau orang yang memiliki kedudukan. Allah Ta’ala berfirman yang artinya “Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”” QS. Al Isra 24 [4] Memberi nafkah harta bila orang tua miskin Orang tua hendaknya memiliki penghidupan sendiri dari hasil kerjanya. Namun bila ia miskin, ia memiliki hak dari harta anaknya untuk penghidupannya. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Engkau dan hartamu adalah miliki ayahmu. Sesungguhnya makanan yang paling baik adalah yang merupakan hasil kerjamu. Dan sesungguhnya harta anak-anakmu juga adalah hasil kerjamu, maka makanlah darinya jangan ragu” HR. Ahmad dan Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al Albani. Para ulama menjelaskan hadits ini, bahwa bukan berarti harta anak menjadi milik ayah, namun seorang anak hendaknya tidak keluar dari pendapat ayahnya dalam penggunaan harta Fiqhut Ta’amul, 130 Demikian paparan yang singkat ini. Semoga menggugah hati kita bahwa selama ini salah satu kunci surga ada di dekat kita, yaitu orang tua kita sendiri. Semoga Allah menolong kita untuk menjadi anak yang berbakti kepada mereka dan mengumpulkan kita bersama mereka di surga-Nya. [Yulian Purnama, Di artikel “Perintah Untuk Birrul Walidain” kita telah mengetahui perintah Allah dan Rasul-Nya untuk berbakti kepada orang tua, dan betapa agungnya kedudukan birrul walidain dalam Islam. Maka pertanyaan selanjutnya, bagaimana cara berbakti kepada orang tua?Berikut ini beberapa adab yang baik dan akhlak yang mulia kepada orang tuaBerkata-kata dengan sopan dan penuh kelembutan, dan jauhi perkataan yang menyakiti hati merekaBersikap tawadhu’ kepada orang tua dan sikapilah mereka dengan penuh kasih sayangTidak memandang orang tua dengan pandangan yang tajam, tidak bermuka masam atau wajah yang tidak menyenangkanTidak meninggikan suara ketika berbicara dengan orang tuaTidak mendahului mereka dalam berkata-kataLebih mengutamakan orang tua daripada diri sendiri atau iitsaar dalam perkara duniawiDakwahi mereka kepada agama yang benarJagalah kehormatan merekaBerikan pelayanan-pelayanan kepada orang tua dan bantulah urusan-urusannyaJawablah panggilan mereka dengan segeraJangan berdebat dengan mereka, jangan mudah menyalah-nyalahkan mereka, jelaskan dengan penuh adabSegera bangkit menyambut mereka ketika mereka masuk rumah, dan ciumlah tangan merekaJangan menganggu mereka di waktu mereka istirahatJangan berbohong kepada merekaJangan pelit untuk menafkahi merekaSering-seringlah mengunjungi merekaJika ingin meminta sesuatu kepada mereka, mintalah dengan lemah lembutJika orang tua dan istri bertikai maka berlaku adillahBermusyarawahlah dengan mereka dalam urusan-urusanmuBerziarah kubur mereka dan sering-sering doakan merekaBerkata-kata dengan sopan dan penuh kelembutan, dan jauhi perkataan yang menyakiti hati merekaAllah Ta’ala berfirmanوَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia” QS. Al Isra 23.Ibnu Katsir menjelaskan tentang ayat [فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ]أي لا تسمعهما قولا سيئا حتى ولا التأفيف الذي هو أدنى مراتب القول السيئ“Maksudnya jangan memperdengarkan kepada orang tua, perkataan yang buruk. Bahkan sekedar ah yang ini merupakan tingkatan terendah dari perkataan yang buruk” Tafsir Ibnu Katsir.Bersikap tawadhu’ kepada orang tua dan sikapilah mereka dengan penuh kasih sayangAllah Ta’ala berfirmanوَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا“Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.” QS. Al Isra 24.Tidak memandang orang tua dengan pandangan yang tajam, tidak bermuka masam atau wajah yang tidak menyenangkanTidak meninggikan suara ketika berbicara dengan orang tuaDalil kedua adab di atas adalah hadits Al Musawwir bin Makhramah mengenai bagaimana adab para Sahabat Nabi terhadap Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam, disebutkan di dalamnyaوإذا تكَلَّمَ خَفَضُوا أصواتَهم عندَه ، وما يُحِدُّون إليه النظرَ؛ تعظيمًا له“jika para sahabat berbicara dengan Rasulullah, mereka merendahkan suara mereka dan mereka tidak memandang tajam sebagai bentuk pengagungan terhadap Rasulullah” HR. Al Bukhari 2731.Syaikh Musthafa Al Adawi mengatakan “setiap adab di atas terdapat dalil yang menunjukkan bahwa adab-adab tersebut merupakan sikap penghormatan”.Tidak mendahului mereka dalam berkata-kataDari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhu beliau berkataكنَّا عندَ النَّبيِّ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ فأتيَ بِجُمَّارٍ، فقالَ إنَّ منَ الشَّجرةِ شجَرةً، مثلُها كمَثلِ المسلِمِ ، فأردتُ أن أقولَ هيَ النَّخلةُ، فإذا أنا أصغرُ القومِ، فسَكتُّ، فقالَ النَّبيُّ صلَّى اللهُ عليْهِ وسلَّمَ هيَ النَّخلةُ“kami pernah bersama Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam di Jummar, kemudian Nabi bersabda Ada sebuah pohon yang ia merupakan permisalan seorang Muslim’. Ibnu Umar berkata sebetulnya aku ingin menjawab pohon kurma. Namun karena ia yang paling muda di sini maka aku diam’. Lalu Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam pun memberi tahu jawabannya kepada orang-orang ia adalah pohon kurma'” HR. Al Bukhari 82, Muslim 2811.Ibnu Umar melakukan demikian karena adanya para sahabat lain yang lebih tua usianya walau bukan orang tuanya. Maka tentu adab ini lebih layak lagi diterapkan kepada orang mengutamakan orang tua daripada diri sendiri atau iitsaar dalam perkara duniawiHendaknya kita tidak mengutamakan diri kita sendiri dari orang tua dalam perkara duniawi seperti makan, minum, dan perkara lainnya. Dalilnya adalah hadits dalam Shahihain tentang tiga orang yang ber-tawassul dengan amalan shalih yang salah satunya bertawassul dengan amalan baiknya kepada orang tua, diantara ia melakukan iitsaar kepada orang tuanya. Hadits ini telah disebutkan pada materi yang telah lalu, mereka kepada agama yang benarAllah Ta’ala berfirmanوَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِبْرَاهِيمَ إِنَّهُ كَانَ صِدِّيقًا نَبِيًّا إِذْ قَالَ لِأَبِيهِ يَا أَبَتِ لِمَ تَعْبُدُ مَا لَا يَسْمَعُ وَلَا يُبْصِرُ وَلَا يُغْنِي عَنْكَ شَيْئًا يَا أَبَتِ إِنِّي قَدْ جَاءَنِي مِنَ الْعِلْمِ مَا لَمْ يَأْتِكَ فَاتَّبِعْنِي أَهْدِكَ صِرَاطًا سَوِيًّا يَا أَبَتِ لَا تَعْبُدِ الشَّيْطَانَ إِنَّ الشَّيْطَانَ كَانَ لِلرَّحْمَنِ عَصِيًّا يَا أَبَتِ إِنِّي أَخَافُ أَنْ يَمَسَّكَ عَذَابٌ مِنَ الرَّحْمَنِ فَتَكُونَ لِلشَّيْطَانِ وَلِيًّا“Ceritakanlah Hai Muhammad kisah Ibrahim di dalam Al Kitab Al Quran ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan lagi seorang Nabi. Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya; “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikitpun? Wahai bapakku, sesungguhnya telah datang kepadaku sebahagian ilmu pengetahuan yang tidak datang kepadamu, maka ikutilah aku, niscaya aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang lurus. Wahai bapakku, janganlah kamu menyembah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu durhaka kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai bapakku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah, maka kamu menjadi kawan bagi syaitan”” QS. Maryam 41-45.Jagalah kehormatan merekaDari Abdullah bin Umar radhiallahu’anhuma, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaإِنَّ اللَّهَ حَرَّمَ عَلَيْكُمْ دِمَاءَكُمْ وَأَمْوَالَكُمْ وَأَعْرَاضَكُمْ كَحُرْمَةِ يَوْمِكُمْ هَذَا ، فِي شَهْرِكُمْ هَذَا، فِي بَلَدِكُمْ هَذَا“sesungguhnya Allah telah mengharamkan atas sesama kalian darah kalian untuk ditumpakan dan harta kalian untuk dirampais dan kehormatan untuk dirusak. Sebagaimana haramnya hari ini, haramnya bulan ini dan haramnya negeri ini” HR. Bukhari.Berikan pelayanan-pelayanan kepada orang tua dan bantulah urusan-urusannyaRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaالمسلمُ أخو المسلمِ ، لا يَظْلِمُه ولا يُسْلِمُه ، ومَن كان في حاجةِ أخيه كان اللهُ في حاجتِه ، ومَن فرَّجَ عن مسلمٍ كربةً فرَّجَ اللهُ عنه كربةً مِن كُرُبَاتِ يومِ القيامةِ ، ومَن ستَرَ مسلمًا ستَرَه اللهُ يومَ القيامةِ“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim yang lain, tidak boleh menzhaliminya, tidak boleh membiarkannya dalam bahaya. barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya sesama Muslim, maka Allah akan penuhi kebutuhannya. barangsiapa yang melepaskan saudaranya sesama Muslim dari satu kesulitan, maka Allah akan melepaskan ia dari satu kesulitan di hari kiamat. barangsiapa yang menutup aib seorang Muslim, Allah akan menutup aibnya di hari kiamat” HR. Al Bukhari no. 2442Jawablah panggilan mereka dengan segeraDari Abu Hurairah radhiallahu’anhu, Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaفَأَتَتْ أُمُّهُ يَوْمًٍا فَقَالَتْ يَا جُرَيْجُ! وَهُوَ يُصّلِّى، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ – وَهُوَ يُصَلِّي – أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ، ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَّانِيَةَ، فَقَالَ فِي نَفْسِهِ أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. ثُمَّ صَرَخَتْ بِهِ الثَالِثَةَ فَقَالَ أُمِّي وَصَلاَتِي؟ فَرَأَى أَنْ يُؤْثِرَ صَلاَتَهُ. فَلَمَّا لَمْ يُجِبْهَا قَالَتْ لاَ أَمَاتَكَ اللهُ يَا جُرَيْجُ! حَتىَّ تَنْظُرَ فِي وَجْهِ المُوْمِسَاتِ“Suatu hari datanglah ibu Juraij dan memanggil anaknya Juraij ketika ia sedang melaksanakan shalat, ”Wahai Juraij.” Juraij lalu bertanya dalam hatinya, ”Apakah aku harus memenuhi panggilan ibuku atau meneruskan shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya lalu memanggil untuk yang kedua kalinya. Juraij kembali bertanya di dalam hati, ”Ibuku atau shalatku?” Rupanya dia mengutamakan shalatnya. Ibunya memanggil untuk kali ketiga. Juraij bertanya lagi dalam hatinya, ”lbuku atau shalatku?” Rupanya dia tetap mengutamakan shalatnya. Ketika sudah tidak menjawab panggilan, ibunya berkata, “Semoga Allah tidak mewafatkanmu, wahai Juraij sampai engkau melihat wajah pelacur” HR. Al Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Adabil Mufrad.Jangan berdebat dengan mereka, jangan mudah menyalah-nyalahkan mereka, jelaskan dengan penuh adabSebagaimana dialog Nabi Ibrahim alahissalam dengan ayahnya. Sebagaimana juga diceritakan oleh Aisyah Radhiallahu’anha“Kami keluar bersama Rasulullah Shalallahualaihi Wasallam pada beberapa perjalanan beliau. Tatkala kami sampai di Al-Baidaa atau di daerah Dzatul Jaisy, kalungku terputus. Rasulullah Shalallahualaihi Wasallam pun berhenti untuk mencari kalung tersebut. Orang-orang yang ikut bersama beliau pun ikut berhenti mencari kalung tersebut. Padahal mereka tatkala itu tidak dalam keadaan bersuci dalam keadaan berwudu dan tidak membawa air. Sehingga orang-orang pun berdatangan menemui Abu bakar Ash-Shiddiq dan berkata, Tidakkah engkau lihat apa yang telah dilakukan oleh Aisyah? Ia membuat Rasulullah Shalallahualaihi Wasallam dan orang-orang berhenti padahal mereka tidak dalam keadaan bersuci dan tidak membawa air. Maka Abu Bakar pun menemuiku, lalu ia mengatakan apa yang dikatakannya. Lalu ia memukul pinggangku dengan tangannya. Tidak ada yang mencegahku untuk menghindar kecuali karena Rasulullah Shalallahualaihi Wasallam yang sedang tidur di atas pahaku. Rasulullah Shalallahualaihi Wasallam terus tertidur hingga subuh dalam keadaan tidak bersuci. Lalu Allah menurunkan ayat tentang tayammum. Usaid bin Al-Hudhair mengatakan, “Ini bukanlah awal keberkahan kalian wahai keluarga Abu Bakar”. Lalu kami pun menyiapkan unta yang sedang aku tumpangi, ternyata kalung itu berada di bawahnya”. HR. An Nasa-i dishahihkan Al Albani dalam Shahih Sunan An Nasa-i.Segera bangkit menyambut mereka ketika mereka masuk rumah, dan ciumlah tangan merekaDari Aisyah radhiallahu’anha, ia berkataوَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَآهَا قَدْ أَقْبَلَتْ رَحَّبَ بِهَا ثُمَّ قَامَ إِلَيْهَا فَقَبَّلَهَا ثُمَّ أَخَذَ بِيَدِهَا فَجَاءَ بِهَا حَتَّى يُجْلِسَهَا فِي مَكَانِهِ. وَكَانَتْ إِذَا أَتَاهَا النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَحَّبَتْ بِهِ ثُمَّ قَامَتْ إِلَيْهِ فَقَبَّلَتْهُ“Nabi Shallallahu alaihi wa sallam jika melihat putri Beliau Shallallahu alaihi wa sallam Fathimah datang ke rumah beliau Shallallahu alaihi wa sallam, maka Nabi Shallallahu alaihi wa sallam menyambut kedatangannya. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam berdiri lalu berjalan menyambut, menciumnya, menggandeng tangannya lalu mendudukkannya di tempat duduk beliau. Jika Nabi Shallallahu alaihi wa sallam mendatangi rumah Fathimah radhiyallahu anhuma , maka Fathimah menyambut kedatangan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Dia bangkit dan berjalan kearah Beliau Shallallahu alaihi wa sallam lalu mencium kening Nabi Shallallahu alaihi wa sallam” HR. Bukhari dalam Al Adabul Mufrad, Ibnu Qathan dalam Ahkamun Nazhar[296] mengatakan “semua perawinya tsiqah”.Jangan menganggu mereka di waktu mereka istirahatSebagaimana firman Allah dalam surat An Nur ayat 58 yang artinya “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak lelaki dan wanita yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh diantara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali dalam satu hari, yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian luarmu di tengah hari, dan sesudah sesudah shalat Isya’. Itulah tiga aurat bagi kamu. Tidak ada dosa atasmu dan tidak pula atas mereka selain dari tiga waktu itu. Mereka melayani kamu, sebahagian kamu ada keperluan kepada sebahagian yang lain. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat bagi kamu. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.Jangan berbohong kepada merekaKarena Nabi Shallallahu’alaihi Wasalam bersabdaعَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ؛ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِي إِلَى الْبِرِّ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِي إِلَى الْجَنَّةِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ يَصْدُقُ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ صِدِّيقًا، وَإِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ؛ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ، وَالْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ حَتَّى يُكتب عند الله كذاباً“Wajib bagi kalian untuk berlaku jujur. Karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang yang senantiasa jujur, ia akan ditulis di sisi Allah sebagai Shiddiq orang yang sangat jujur. Dan jauhilah dusta, karena dusta itu membawa kepada perbuatan fajir maksiat dan perbuatan fajir membawa ke neraka. Seseorang yang sering berdusta, akan di tulis di sisi Allah sebagai kadzab orang yang sangat pendusta” HR. Muslim no. 2607.Berbohong adalah dosa besar. Lebih lebih jika dilakukan terhadap orang tua, lebih besar lagi pelit untuk menafkahi merekaRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaابْدَأْ بِنَفْسِكَ فَتَصَدَّقْ عَلَيْهَا ، فَإِنْ فَضَلَ شَيْءٌ فَلِأَهْلِكَ ، فَإِنْ فَضَلَ عَنْ أَهْلِكَ شَيْءٌ فَلِذِي قَرَابَتِكَ“Mulailah dari dirimu sendiri, engkau beri nafkah dirimu sendiri. Jika ada lebih maka untuk keluargamu. Jika ada lebih maka untuk kerabatmu” HR. Muslim orang tua adalah orang yang paling berhak dinafkahi setelah diri sendiri dan keluarga. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan bahwa seorang anak wajib menafkahi orang tuanya jika memenuhi dua syarat 1. Orang tua dalam keadaan miskin 2. Sang anak dalam keadaan mampu menafkahiJika dua kondisi ini tidak terpenuhi, maka tidak mengunjungi merekaRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaأنَّ رجلًا زارَ أخًا لَهُ في قريةٍ أخرى ، فأرصدَ اللَّهُ لَهُ على مَدرجَتِهِ ملَكًا فلمَّا أتى عليهِ ، قالَ أينَ تريدُ ؟ قالَ أريدُ أخًا لي في هذِهِ القريةِ ، قالَ هل لَكَ عليهِ من نعمةٍ تربُّها ؟ قالَ لا ، غيرَ أنِّي أحببتُهُ في اللَّهِ عزَّ وجلَّ ، قالَ فإنِّي رسولُ اللَّهِ إليكَ ، بأنَّ اللَّهَ قد أحبَّكَ كما أحببتَهُ فيهِ“Pernah ada seseorang pergi mengunjungi saudaranya di daerah yang lain. Lalu Allah pun mengutus Malaikat kepadanya di tengah perjalanannya. Ketika mendatanginya, Malaikat tersebut bertanya “engkau mau kemana?”. Ia menjawab “aku ingin mengunjungi saudaraku di daerah ini”. Malaikat bertanya “apakah ada suatu keuntungan yang ingin engkau dapatkan darinya?”. Orang tadi mengatakan “tidak ada, kecuali karena aku mencintainya karena Allah Azza wa Jalla”. Maka malaikat mengatakan “sesungguhnya aku diutus oleh Allah kepadamu untuk mengabarkan bahwa Allah mencintaimu sebagaimana engkau mencintai saudaramu karena-Nya“ HR Muslim mengunjungi sesama Muslim sangat besar keutamaannya, lebih lagi jika yang dikunjungi adalah orang ingin meminta sesuatu kepada mereka, mintalah dengan lemah lembutRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaلَا تُلْحِفُوا فِي الْمَسْأَلَةِ، فَوَاللهِ، لَا يَسْأَلُنِي أَحَدٌ مِنْكُمْ شَيْئًا، فَتُخْرِجَ لَهُ مَسْأَلَتُهُ مِنِّي شَيْئًا، وَأَنَا لَهُ كَارِهٌ، فَيُبَارَكَ لَهُ فِيمَا أَعْطَيْتُهُ“Jangan kalian memaksa jika meminta. Demi Allah, jika seseorang meminta kepadaku sesuatu, kemudian aku mengabulkan permintaannya tersebut dengan perasaan tidak senang, maka tidak ada keberkahan pada dirinya dan apa yang ia minta itu” HR. Muslim no. 1038.Meminta kepada orang lain dengan memaksa adalah akhlak yang buruk, lebih lagi jika yang diminta adalah orang orang tua dan istri bertikai maka berlaku adillahAllah Ta’ala berfirmanيَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلَّا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan kebenaran karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” QS. Al Maidah 8.Bermusyarawahlah dengan mereka dalam urusan-urusanmuAjaklah orang tua untuk berdiskusi dalam masalah-masalahmu. Allah Ta’ala berfirmanوَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ“Bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan-urusanmu” QS. Al Imran 159.Berziarah kubur mereka dan sering-sering doakan merekaRasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam bersabdaكنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزوروها فإنها ترق القلب ، وتدمع العين ، وتذكر الآخرة ، ولا تقولوا هجرا“Dulu aku pernah melarang kalian untuk berziarah-kubur. Namun sekarang ketahuilah, hendaknya kalian berziarah kubur. Karena ia dapat melembutkan hati, membuat air mata berlinang, dan mengingatkan kalian akan akhirat namun jangan kalian mengatakan perkataan yang tidak layak qaulul hujr, ketika berziarah” HR. Al Haakim dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jaami’, 7584Semoga yang sedikit ini bermanfaat. Wabillahi at taufiiq was juga Siapa yang Menafkahi Orang Tua?—Penyusun Yulian PurnamaArtikel dari kitab Fiqhu at Ta’amul Ma’al Walidain, karya Syaikh Musthafa Al Adawi dan Kaifa Nurabbi Auladana karya Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu Simak kumpulan pidato berbakti kepada orang tua yang bisa kamu jadikan pesan penuh makna di sini! Ada berbagai jenis pidato yang memiliki makna hingga ajakan yang baik untuk sesama umat manusia dan bersifat universal. Salah satu jenis pidato yang banyak diungkapkan secara umum adalah pidato tentang berbakti kepada orang tua. Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban umat manusia semasa hidup dan selalu menjadi pembahasan pada berbagai kesempatan. Jika kamu ingin memberikan pidato tentang orang tua, ada beberapa pilihan yang bisa kamu jadikan referensi. Seperti apa contoh teks pidato berbakti kepada orang tua penuh makna? Simak pembahasannya bersama-sama! Inilah berbagai contoh pidato singkat tentang berbakti kepada orang tua. 1. Pidato Singkat Menghormati Orang Tua Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Teman-teman yang saya muliakan, izinkan saya untuk memberikan pidato yang berjudul berbakti kepada orang tua. Dalam semua agama, menghormati orang tua hukumnya adalah wajib karena mereka telah berjasa dalam kehidupan kita. Menghormati orang tua bukan hanya sekadar patuh terhadap perintah, tetapi juga memberikan rasa bangga sebagai bentuk penghargaan. Rasa bangga bukan hal yang sulit, bahkan kamu dengan belajar yang baik sudah menghormati orang tua. Sebab, orang tua kamu semua telah memberikan pendidikan layak sehingga tak boleh kamu sia-siakan. Pada kesempatan kali ini, kita tidak hanya diajarkan untuk berbakti dan menghormati orang tua saja tetapi juga cara mendoakannya. Pengorbanan dan kerja keras mereka sangatlah wajib dihargai, bahkan sudah menjadi perintah jelas. Oleh sebab itu, mari kita semua mendoakan orang tua supaya senantiasa dalam keadaan baik. Turuti perintah dan nasihatnya, serta jauhi larangannya sehingga kita menjadi anak yang berbakti pada orang tua. Akhir kata, Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. 2. Pentingnya Berbakti pada Orang Tua Menurut Islam Teks pidato berbakti kepada orang tua untuk anak SD 3. Pidato Berbakti pada Ibu Assalamualaikum Marilah kita memberikan ungkapan syukur kepada Allah Swt. karena rahmat dan hidayahnya kita dapat berkumpul pada kesempatan yang berbahagia ini. Pada kesempatan ini, saya ingin menyampaikan pidato adab kepada orang tua. Ibu adalah orang yang telah melahirkan kita ke dunia ini dan ibu juga yang membuat kita semua ada di sini dan terus bertumbuh. Pengorbanan seorang ibu tidak pernah mudah, bahkan ibu kita mengandung 9 bulan lamanya sebelum melahirkan. Ibu juga bertaruh nyawa dan menahan rasa sakit demi melahirkan kita semua. Tak sampai disitu saja, ibu juga senantiasa menyusui tanpa kenal lelah bahkan ia rela tak tidur hanya demi sang anak. Saat beranjak dewasa, Ibu juga memiliki sifat tanggung jawab besar atas cerminan dan kepribadian diri sang anak. Hadirin yang berbahagia, Peran ibu begitu besar, meski kita membalas jasa-jasa tersebut dengan berbagai materi dirasa tidak cukup. Meski demikian, kita bisa mencukupkan rasa cinta dengan berbakti dan mencukupkan kebutuhannya. Oleh karena itu, mari kita membahagiakan ibunda dengan berbakti kepadanya sehingga rezeki yang diberikan senantiasa mengalir. Sekian Pidato ini saya sampaikan dan Wassalamualaikum 4. Pidato Berbakti Kepada Ayah Pildacil berbakti kepada orang tua 5. Pidato Tentang Berbakti Kepada Orang Tua dan Pengorbanannya Ceramah tentang berbakti kepada orang tua 6. Pidato Berbakti Kepada Orang Tua Beserta Pantun Jalan-jalan di pagi hari. Langit pagi terlihat cerah. Halo semua apa kabar hari ini. Semoga kita selalu dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita bersama mengucapkan rasa syukur atas nikmat yang telah Allah Swt. limpahkan kepada kita semua sehingga kita bisa berada di sini. Di pagi hari yang cerah ini, izinkan saya menyampaikan ceramah tentang berbakti kepada orang tua. Ibu kita semua telah berjasa mengandung kita selama 9 bulan lamanya dan melahirkan kita ke dunia dengan rasa sakit yang luar biasa. Tak hanya itu, setelah melewati perjuangan tersebut, seorang ibu juga merawat kita dengan sepenuh hati. Besar sekali jasa seorang ibu, bahkan jasanya tak bisa dibalas dengan harta apa pun yang kita miliki. Seorang Bapak juga memiliki jasa yang tak kalah besar karena memberi keluarganya nafkah dengan hasil cucuran keringatnya. Pengorbanan seorang Bapak juga tak bisa dipandang sebelah mata, sebab tanpa perjuangannya kita tidak akan bisa mengenyam pendidikan di sekolah yang kita cintai ini. Di samping itu, sebagai seorang anak, kita juga diperintahkan oleh Allah Swt. untuk berbakti tanpa alasan. Sebagai muslim yang taat, sudah selayaknya kita melakukan apa pun yang Allah perintahkan kepada kita. Mulai saat ini, tidak ada lagi alasan untuk berbakti kepada Ibu dan Bapak di rumah. Jadilah anak yang berbakti dengan menyenangkan hati orang tua sepenuhnya tanpa mengeluh. Demikianlah pidato singkat saya. Waalaikumsalam 7. Pidato Tentang Berbakti Kepada Orang Tua Beserta Hadisnya Pidato tentang orang tua singkat Sumber Apa Perbedaan Pidato, Ceramah, dan Khotbah? Setelah mengetahui pidato singkat berbakti kepada orang tua, kamu juga perlu mengetahui perbedaan pidato dengan teks lainnya, seperti ceramah maupun khotbah. Pidato, ceramah, serta khotbah memang sama-sama digunakan sebagai media untuk mengungkapkan pikiran seseorang. Namun, ketiganya memiliki sejumlah perbedaan. Pidato adalah sebuah teks yang memiliki pengertian dan bahasan umum. Sedangkan, ceramah dan khotbah memiliki pengertian dan bahasan yang lebih khusus. Ceramah sendiri adalah pidato yang masih berkaitan dengan ilmu pengetahuan. Sementara, khotbah adalah pidato keagamaan yang terdiri dari nasihat. Singkatnya, baik ceramah maupun khotbah masih termasuk pidato. Perbedaan ketiganya hanya dari isi dan penyampaiannya saja. *** Itulah kumpulan teks pidato berbakti kepada orang tua yang menyentuh hati. Baca juga informasi menarik lainnya seputar pendidikan hanya di Kamu juga dapat mengikuti Google News kami agar tak ketinggalan berita terbaru, lo. Yuk, segera wujudkan keinginan untuk memiliki rumah impian bersama karena kami selalu AdaBuatKamu. DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute Selain tauhid, syariat yang pertama-tama diturunkan oleh Allah kepada semua utusan-Nya di sepanjang sejarah kerasulan adalah berbakti kepada kedua orang tua. Dalam Alquran surah al-An’am ayat 151, perjanjian itu diingatkan lagi kepada umat Nabi Muhammad SAW. Dengan Bani Israil, Allah Ta’ala juga telah membuat perjanjian agar mereka bertauhid dan berbuat bakti kepada kedua orang tua. Hal itu dijelaskan dalam surah al-Baqarah ayat 83. “Wa idz akhadznaa miitsaaqa banii israailla laa ta’budduna illallaha wa bil waalidaini ihsaana”. Dalam surah an-Nisa’ 36, perintah secara umum agar bertauhid dan berbakti kepada kedua orang tua “Wa’budullah wa laa tusyrikuu bihii syaian wa bil waalidaini ihsaanaa”. Dalam surah al-Isra’ ayat 23, Allah menggandeng hakikat bertauhid dengan perkara berbakti kepada kedua orang tua. “Wa qadaa Rabbuka allaa ta’buduuu illaaa iyyaahu wa bilwaalidayni ihsaanaa.” Artinya, “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.” Dari ayat itu, dapatlah diambil sebuah pelajaran. Setelah bertauhid sebagai pemenuhan hak Allah, seorang hamba mesti segera memenuhi hak makhluk. Dan pertama-tama, hak makhluk yang harus dipenuhi adalah berbakti kepada kedua orang tua. Caranya bagaimana? Allah menjelaskan dalam kelanjutan ayat yang sama. “Fa laa taqul lahumaa uffin janganlah mengucapkan kepada kedua orang tua perkataan ah’. Kata uffin atau “ah” itu bermaksud sikap yang tidak simpatik sehingga membuat jengkel bapak dan ibu. Ucapan itu merupakan bentuk yang paling rendah dari sikap menyakitkan hati. Maka, apatah lagi sikap yang lebih parah daripada itu. Contohnya membentak seperti yang ditegaskan pada ayat berikutnya “Wa laa tanhar humaa”. Bila ucapan “ah” menunjukkan sikap malas, tidak simpatik, sikap membentak menunjukkan sikap garang, dengan mata membelalak, penuh ancaman. Menganggap orang tua rendah di hadapannya. Tentu sikap ini sangat mengundang murka Allah SWT. Bayangkan, betapa Allah telah mengangkat derajat orang tua setinggi-tingginya, dengan menyejajarkan bahwa berbakti kepadanya adalah bukti bertauhid kepada-Nya, lalu tiba-tiba ia memandang remeh orang tuanya dengan cara membentaknya. Di sini kita mengerti mengapa nabi bersabda “Wa sukhtullahi fii sukhtil waa lidain” dan kemurkaan Allah sejalan dengan murkanya kedua orang tua. Manusia diperintahkan agar mengucapkan perkataan yang baik, penuh lemah lembut, serta menyejukkan hati kepada kedua orang tua. Pada ayat berikutnya, manusia diperintahkan agar mengucapkan perkataan yang baik, penuh lemah lembut, serta menyejukkan hati kepada kedua orang tua. ”Wa qul lahumaa qaulan kariimaa”. Bahwa dengan bersikap lemah lembut, ayah dan ibu akan ridha. Secara otomatis, anak yang berbakti itu akan mendapatkan ridha Allah SWT. Inilah makna hadis yang berbunyi, “Ridhallahi fii ridhal waalidain.” Tentu, jangan sampai melampaui batas dalam memburu ridha kedua orang tua. Karena itu, Allah memberikan aba-aba. “Wa in jaahadaaka alaa an tusyrika bii maa laisa laka bihii ilmun falaa tuthi’huma”. Yang artinya, “Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, janganlah engkau menaati keduanya” QS Luqman 15. Nabi menegaskan “Laa thaa ata limakhluuqin fii ma’shiyatil khaaliq” tidak boleh makhluk ditaati selama mengajak kepada berbuat maksiat kepada Allah Sang Pencipta. Baca Selengkapnya’;

karangan berbakti kepada orang tua